DKI Jakarta Impor 7.500 Sapi Australia untuk Stabilkan Harga Daging

arsitektur parameter RTP

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai program impor 7.500 ekor sapi hidup dari Australia. Langkah strategis ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga daging sapi menyambut bulan Ramadan serta perayaan Idulfitri.

Hingga saat ini, sebanyak 3.100 ekor sapi pertama telah tiba di Jakarta. Proses impor dilakukan melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dharma Jaya yang beroperasi di Dermaga 101, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Antisipasi Lonjakan Harga dan Inflasi

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa impor ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi. Setiap tahun, tekanan inflasi di Ibu Kota kerap dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan pokok selama Ramadan, terutama daging, cabai, dan beras.

“Dengan tambahan pasokan sapi dari Australia ini, kami yakin kebutuhan daging masyarakat Jakarta dapat terpenuhi tanpa diikuti kenaikan harga yang signifikan. Ini adalah langkah preventif untuk mencegah inflasi,” ujar Pramono Anung.

Momen Bersejarah Setelah 28 Tahun

Impor langsung sapi hidup dari Australia ke Jakarta menandai momen penting, karena terakhir kali dilakukan 28 tahun yang lalu. Gubernur Pramono menilai, keberhasilan mengadakan impor langsung ini mencerminkan peningkatan kepercayaan dari mitra internasional terhadap tata kelola Jakarta.

“Mengapa baru bisa dilakukan sekarang setelah 28 tahun? Karena sebelumnya mungkin tingkat kepercayaan belum terbangun sempurna. Kini, kita telah dipercaya untuk melakukan impor langsung dari Australia,” jelasnya.

Pemerintah berharap langkah ini, bersama dengan pengelolaan komoditas lainnya, dapat menstabilkan harga kebutuhan pokok sehingga masyarakat dapat menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan lebih tenang.